Rahasia Keindahan Doa Istiftah (3)
Salah satu diantara do’a Istiftah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
اللَّهُمَّ بَاعدْ بيني وبين خطاياي، كما باعدت
بين المشرق والمغرب، اللَّهُمَّ نقِّني مِن خطاياي كما يُنقَّى الثوبُ
الأبيضُ مِن الدَّنسِ، اللَّهُمَّ اغسلني مِن خَطَايَاي بالماءِ والثَّلجِ
والبَرَدِ
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku
sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah,
sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari
kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan butiran es” (Muttafaqun ‘alaih, dan lafadz ini dari Al-Bukhari).
Penjelasan
Dalam hadits yang agung di atas, terdapat tiga bentuk permohonan, yaitu:
- Memohon dijauhkan dari kesalahan maupun siksa yang diakibatkannya agar tidak terjatuh ke dalam dosa.
- Memohon disucikan dari kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan.
- Memohon agar ditambah kesucian, berupa bersih dari pengaruh buruk kesalahan.
Berikut Perinciannya:
1. Memohon dijauhkan dari kesalahan maupun siksa yang diakibatkannya, agar tidak terjatuh ke dalam dosa
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اَللّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani rahimahullah mengatakan,
قوله (باعد) المراد بالمباعدة محو ما حصل منها
والعصمة عما سيأتي منها، وهو مجاز لأن حقيقة المباعدة إنما هي في الزمان
والمكان، وموقع التشبيه أن التقاء المشرق والمغرب مستحيل فكأنه أراد أنه لا
يبقى لها منه اقتراب بالكلية
“Ucapan jauhkanlah, yang dimaksud dengan penjauhan
di sini menghapus akibat buruknya dan mohon dijaga dari terjatuh
kedalamnya. Kalimat ini adalah kalimat majas (kiasan), karena hakikat
menjauhkan (sesuatu) itu hanyalah dalam masalah waktu dan tempat. Adapun
sisi kemiripannya adalah bahwa pertemuan antara timur dan barat adalah
sesuatu yang mustahil (bagi makhluk), sehingga seolah-olah orang yang
berdo’a dengan do’a ini menginginkan agar tidak tersisa baginya
kedekatan (antara dirinya) dengan kesalahan-kesalahannya, sama sekali”
(baca: jauh dari dosa)” (Fathul Bari).
Syaikh Muhammad Shaleh rahimahullah berkata,
ومعناه: أنه سأل الله أن يُباعد بينه وبين خطاياه؛
كما باعَدَ بين المشرقِ والمغربِ، والمباعدة بين المشرق والمغرب هو غاية
ما يبالغ فيه النَّاسُ، فالنَّاسُ يبالغون في الشيئين المتباعدين إمَّا بما
بين السماء والأرض، وإما بما بين المشرقِ والمغربِ، ومعنى «باعِدْ بيني
وبين خَطَاياي» أي: باعِدْ بيني وبين فِعلِها بحيث لا أَفْعَلُها، وباعِدْ
بيني وبين عقوبِتها.
“Maknanya adalah bahwa seseorang memohon kepada Allah agar
dijauhkan antara ia dan kesalahannya, sebagaimana Dia telah menjauhkan
antara timur dan barat. Dan penjauhan antara
timur dan barat adalah ungkapan jarak terjauh yang (biasa) diungkapkan
manusia, karena manusia mengungkapkan jarak terjauh antara dua hal
(dengan dua model ungkapan), yaitu antara langit dan bumi atau antara timur dan barat dan makna:
(بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ)
Jauhkanlah antara aku dan kesalahanku, mkasudnya
- Jauhkan antara aku dan melakukan perbuatan salah, sehingga aku tidak melakukannya.
- Jauhkan antara aku dan siksa yang diakibatkannya (Syarhul Mumti’, 3/63).
Kesimpulan
Kesimpulan dari kalimat pertama Hadits ini adalah:
- Seorang yang shalat dan membaca do’a Istiftah ini, hakikatnya memohon agar tidak melakukan dosa dan jauh darinya. Termasuk didalam kandungan do’a ini adalah memohon jauh dari sarana, pintu, dan jalan menuju dosa.
- Memohon agar jauh dari siksa sebagai akibat dari dosa.
2. Memohon disucikan dari kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan.
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اللَّهُمَّ نقِّني مِن خطاياي كما يُنقَّى الثوبُ الأبيضُ مِن الدَّنسِ
“Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani rahimahullah berkata,
قوله (نقني) مجاز عن زوال الذنوب ومحو أثرها ، ولما كان الدنس في الثوب الأبيض أظهر من غيره من الألوان وقع التشبيه به ، قاله ابن دقيق العيد.
Sabda beliau:
نقِّني
Sucikanlah ini adalah kalimat majas (kiasan) untuk
mengungkapkan hilangnya dosa-dosa dan terhapusnya dampak buruknya.
Tatkala kotoran pada baju putih lebih tampak daripada kotoran pada baju
warna lainnya, maka diserupakan (penghapusan dosa disini) dengannya
(baju putih), tutur Ibnu Daqiqil ‘Iid.
Syaikh Muhammad Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
هذه الجملةُ تدلُّ على أنَّ المرادَ بذلك الخطايا التي وقعت منه
“Kalimat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud disini adalah kesalahan-kesalahan yang terlanjur terjadi.”
Beliau juga mengatakan,
أي: كما يُغسل الثوبُ الأبيضُ إذا أصابه الدَّنس
فيرجع أبيض، وإنما ذَكَرَ الأبيضَ؛ لأن الأبيض هو أشدُّ ما يؤثِّر فيه
الوسخ؛ بخلاف الأسود، ولهذا في أيام الشتاء الثياب السوداء تبقى شهراً أو
أكثر، لكن الأبيض لا يبقى أسبوعاً إلا وقد تدنَّسَ، فلهذا قال: «كما يُنقَّى الثوبُ الأبيضُ مِن الدَّنَسِ» وهذا ظاهرٌ أنه في الذُّنوب التي فَعَلَهَا يُنقَّى منها
Yaitu, sebagaimana pakaian yang putih dicuci jika terkena kotoran, sehingga kembali putih (bersih). Beliau menyebutkan putih
karena warna putih paling mudah nampak jika terkotori kotoran, berbeda
dengan warna hitam, oleh karena itu, pada musim dingin baju hitam
(biasanya) selama sebulan atau lebih tetap kelihatan bersih, namun baju
putih, tidak sampai sepekan sudah kelihatan kotor. Oleh karena itu
beliau bersabda:
كما يُنقَّى الثوبُ الأبيضُ مِن الدَّنَسِ
“Sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran.
Maknanya nampak jelas, yaitu bahwa ini berkaitan dengan dosa-dosa yang terlanjur dilakukan, lalu disucikan” (Syarhul Mumti’ 3/63-64).
3. Memohon agar ditambah kesucian, berupa bersih dari pengaruh buruk kesalahan.
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اللَّهُمَّ اغسلني مِن خَطَايَاي بالماءِ والثَّلجِ والبَرَدِ
“Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan butiran es”
Syaikh Muhammad Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
وبعد التنقية قال: «اللَّهُمَّ اغسلْنِي مِن خطاياي بالماءِ والثَّلجِ والبَرَدِ».
إذاً؛ فالذي يظهر: أنَّ الجملةَ الأُولى في
المباعدة، أي: أن لا أفعلَ الخطايا، ثم إن فَعلتُها فنقِّني منها، ثم أزِلْ
آثارَها بزيادة التطهير بالماء والثَّلجِ والبَرَدِ، فالماء لا شَكَّ أنه
مطهِّرٌ، لكن الثَّلجُ والبَرَدُ مناسبته هنا أنَّ الذُّنوب آثارها العذابُ
بالنَّارِ، والنَّارُ حارَّة، والحرارةُ يناسبها في التنقية منها الشيء
البارد، فالماء فيه التنظيف، والثَّلجُ والبَرَدُ فيهما التبريدُ.
“Setelah (permohonan) pensucian (pada kalimat kedua), lalu beliau bersabda:
«اللَّهُمَّ اغسلني مِن خَطَايَاي بالماءِ والثَّلجِ والبَرَدِ»
Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan butiran es.
Jadi, makna yang nampak: bahwa kalimat pertama berisikan tentang
“permohonan penjauhan”, yaitu agar saya tidak melakukan
kesalahan,kemudian jika saya terlanjur melakukannya, maka sucikanlah,
lalu hilangkanlah dampak buruknya dengan tambahan pensucian, dengan air,
salju, dan butiran es.
Tidak diragukan lagi , bahwa air adalah sesuatu yang
mensucikan, namun salju dan butiran-butiran es sisi korelasinya adalah
bahwa dosa dampak buruknya adalah adzab di Neraka, sedangkan api Neraka
panas, dan sesuatu yang dingin sangat cocok untuk membersihkan sesuatu
yang panas. Di dalam Air terdapat fungsi pembersihan, sedangkan di dalam
salju dan butiran es ada fungsi mendinginkan” (Syarhul Mumti’)
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani rahimahullah menukilkan beberapa perkataan ulama,
قوله: (بالماء والثلج والبرد)
قال الخطابي:
ذكر الثلج والبرد تأكيد، أو لأنهما ماءان لم تمسهما الأيدي ولم يمتهنهما
الاستعمال. وقال ابن دقيق العيد : عبر بذلك عن غاية المحو ، فإن الثوب الذي
يتكرر عليه ثلاثة أشياء منقية يكون في غاية النقاء، قال: ويحتمل أن يكون
المراد أن كل واحد من هذه الأشياء مجاز عن صفة يقع بها المحو وكأنه كقوله
تعالى: {وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا} وأشار
الطيبي إلى هذا بحثا فقال: يمكن أن يكون المطلوب من ذكر الثلج والبرد بعد
الماء شمول أنواع الرحمة والمغفرة بعد العفو لإطفاء حرارة عذاب النار التي
هي في غاية الحرارة .
Sabda beliau
(بالماء والثلج والبرد)
Dengan air, salju, dan butiran es.
“Al-Khaththabi mengatakan penyebutan salju dan butiran es
adalah sebuah bentuk penegasan atau (Penyebutan salju dan butiran es
tersebut) karena keduanya merupakan air yang asalnya tidak tersentuh
tangan manusia dan belum terkontaminasi pemakaian manusia” Ibnu Daqiqil
‘Iid berkata “Hal itu disebutkan untuk mengungkapkan puncak penghapusan
(dosa), karena pakaian yang disucikan secara berulang dengan ketiga
pembersih tersebut, maka menjadi suci secara maksimal. Beliau juga
berkata ada kemungkinan maknanya bahwa masing-masing dari ketiga
pembersih ini adalah kata kiasan untuk mengungkapkan suatu sifat
penghapusan (dosa). Seolah-olah seperti firman Allah Ta’ala:
{وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا}
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. (Al-Baqarah: 286) .
Ath-Thibi mengisyaratkan sebuah pembahasan, beliau
berkata: memungkinkan yang dimaksud penyebutan salju dan butiran es
setelah penyebutan air adalah mencakup berbagai macam rahmat dan ampunan
setelah ma’af (Allah), untuk memadamkan adzab Neraka yang merupakan
sesuatu yang terpanas (Fathul Bari).
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani rahimahullah mengatakan,
ويؤيده ورود وصف الماء بالبرودة في حديث عبد الله
بن أبي أوفى عند مسلم ، وكأنه جعل الخطايا بمنزلة جهنم لكونها مسببة عنها ،
فعبر عن إطفاء حرارتها بالغسل وبالغ فيه باستعمال المبردات ترقيا عن الماء
إلى أبرد منه .
“Hal itu dikuatkan oleh adanya penyebutan sifat dinginnya
air dalam Hadits Abdullah bin Abi Aufa yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim dan seolah-olah dijadikan kesalahan-kesalahan itu seperti
kedudukan Jahannam, hal itu dikarenan bahwa masuk neraka Jahannam itu
merupakan akibat dari (melakukan) kesalahan-kesalahan (baca: dosa-dosa),
sehingga diungkapkan pemadaman panas Jahannam dengan pencucian dan
ditambah lagi dengan ungkapan penggunaan pendingin mulai dari air, lalu
meningkat sampai ke yang lebih dingin darinya (salju dan butiran es)” (Fathul Bari).
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat.
***
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Artikel Muslim.or.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar