Tampilkan postingan dengan label Praktek sholat jamaah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Praktek sholat jamaah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2015

Bisa Sesat Karena Meninggalkan Ajaran Rasul

Ibnu Mas'ud berkata, "Jika kalian meninggalkan ajaran Nabi kalian, maka kalian akan sesat." Hal ini dikatakan oleh Ibnu Mas'ud saat membicarakan shalat berjama'ah. Namun sebenarnya berlaku pula untuk berbagai ajaran Islam lainnya. Jika ajaran tersebut ditinggalkan, maka akan diperoleh kesesatan.


Ibnu Mas’ud berkata, “Jika kalian meninggalkan ajaran Nabi kalian, maka kalian akan sesat.” Hal ini dikatakan oleh Ibnu Mas’ud saat membicarakan shalat berjama’ah. Namun sebenarnya berlaku pula untuk berbagai ajaran Islam lainnya. Jika ajaran tersebut ditinggalkan, maka akan diperoleh kesesatan.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ
Barangsiapa bergembira bertemu dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat-shalat ini di saat ia dipanggil untuk melaksanakannya. Karena Allah memerintahkan untuk Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam ajaran yang baik. Shalat jama’ah tersebut adalah bagian dari petunjuk yang baik.
Seandainya kalian tetap shalat di rumah-rumah kalian seperti shalat orang yang tertinggal ini di rumahnya, kalian berarti telah meninggalkan ajaran Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan ajaran Nabi kalian, kalian tentu akan sesat.
Aku telah melihat bahwa tidak ada yang tertinggal dari shalat berjama’ah melainkan seorang munafik yang jelas kemunafikannya. Sungguh adakalanya seseorang biasa dibawa di antara dua orang (dipapah) sampai ia diberdirikan di dalam shaf.” (HR. Muslim no. 654).
Dalam riwayat Muslim yang lain, Ibnu Mas’ud berkata,
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلاَةَ فِى الْمَسْجِدِ الَّذِى يُؤَذَّنُ فِيهِ
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan pada kami suatu petunjuk yang baik. Yang termasuk ajaran yang baik tersebut adalah shalat di masjid yang dikumandangkan azan di sana.” (HR. Muslim no. 654).
Hadits di atas memang menjelaskan keutamaan melaksanakan shalat jama’ah. Dikatakan bahwa shalat jama’ah adalah satu petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (sunanul huda). Shalat yang dimaksud dalam hadits adalah shalat berjama’ah di masjid. Dan ini diperintahkan bagi setiap pria.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata, “Shalat jama’ah itu wajib dilaksanakan di masjid.  Tidak boleh bagi seorang pria pun yang mampu menghadiri shalat jama’ah lantas ia meninggalkannya.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 5: 75-76).
Pelajaran penting lainnya yang bisa ditarik adalah tentang berpegang teguh dengan sunnah Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (ajaran Islam). Siapa saja yang berpegang teguh dengan ajaran Rasul, maka ia akan selamat. Siapa yang meninggalkannya, maka ia akan sesat. Itulah maksud hadits secara umum, bukan hanya berlaku pada shalat jama’ah saja. Oleh karenanya hati-hatilah dalam menjelekkan satu ajaran Islam semisal jenggot, cadar, anti isbal dan hukum Islam lainnya. Siapa saja yang mencelanya, maka bisa tersesat.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menerangkan pula, “Setiap ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah petunjuk, cahaya dan syari’at dari Allah. Dan yang dimaksud dalam hadits adalah shalat yang lima waktu. Shalat tersebut adalah bagian dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Benarlah apa yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud. Bahkan shalat lima waktu adalah petunjuk terbesar setelah dua kalimat syahadat dalam rukun Islam.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 5: 76).
Hanya Allah yang memberi petunjuk.

Disusun di waktu Dhuha di Pesantren Darush Sholihin, Gunungkidul, 15 Rajab 1435 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

Jumat, 26 Juni 2015

Mengingatkan Kesalahan Imam Shalat Yang Kebingungan (1)

Gambaran Permasalahan

Terkadang, imam shalat tidak mengetahui kesalahan apa yang dilakukan ketika makmum mengingatkannya dengan mengucapkan tasbih (subhaanallah). Misalnya, saat rakaat ke dua shalat isya’, imam hanya sujud sekali, langsung tasyahhud awwal. Makmum pun mengucapkan subhaanallah, dengan maksud mengingatkan imam bahwa masih kurang satu kali sujud. Namun, imam kebingungan, dan menyangka bahwa saat itu adalah rakaat ke tiga, sehingga langsung berdiri menuju rakaat ke empat. Dalam kasus semacam ini, bolehkah makmum mengingatkan imam dengan bahasa yang dipahami imam, misalnya,”Sujudnya kurang sekali lagi” (baik dalam bahasa Indonesia atau bahasa Arab) atau kalimat sejenisnya sehingga jelas bagi imam di manakah letak kesalahannya?

Mengingatkan Imam adalah dengan Mengucapkan Tasbih

Permasalahan semacam ini pernah ditanyakan kepada Syaikh Khalid Muslih berikut ini.
السؤال: إذا سها الإمام في الصلاة، ونبهه المصلون، ولكنه اختلط عليه الأمر، ولم يدر أين الخطأ، فهل يجوز تنبيهه بالكلام، بأن يقول له أحدهم: تنقصك سجدة، ونحو ذلك، مما يحصل به المقصود؟
Pertanyaan:
Jika seorang imam lupa dalam shalatnya, dan diingatkan oleh makmum, akan tetapi imam tersebut menjadi bingung dan tidak tahu apa kesalahannya. Apakah diperbolehkan mengingatkan imam dengan ucapan, misalnya salah satu makmum mengatakan,”Sujudmu kurang” atau kalimat semacam itu sehingga maksud menjadi tersampaikan (imam menjadi tahu kesalahannya, pen.)?
الإجابة: الذي يظهر أنهم يسبحون إلى أن يعقل؛ لما في البخاري (1218) ومسلم (421) عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من نابه شيء في صلاته فليقل: سبحان الله”، هذا يشمل كل ما يحتاج إلى تنبيه في الصلاة، وبهذا قال جمهور الفقهاء.
Jawaban Syaikh Khalid Mushlih:
Yang tampak bagiku adalah mereka mengucapkan tasbih untuk mengingatkan imam. Hal ini sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1218) dan Muslim (no. 421) dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin mengingatkan sesuatu dalam shalatnya, hendaklah mengucapkan, ’Subhaanallah’.” Perintah ini mencakup semua hal yang membutuhkan peringatan dalam shalat. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.
وذهب بعض الفقهاء إلى أنه يجوز أن ينبه الإمام بالكلام الذي يعقل به خطأه في صلاته، وهذا منقول عن ربيعة ومالك؛ استنادا لما في البخاري (482) ومسلم (573) من حديث أبي هريرة رضي الله عنه قال: “صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إحدى صلاتي العشي، فصلى بنا ركعتين ثم سلم فقام إلى خشبة معروضة في المسجد، فاتكأ عليها كأنه غضبان، ووضع يده اليمنى على اليسرى وشبك بين أصابعه، ووضع خده الأيمن على ظهر كفه اليسرى، وخرجت السرعان من أبواب المسجد فقالوا: قصرت الصلاة، وفي القوم أبو بكر وعمر، فهابا أن يكلماه، وفي القوم رجل في يديه طول، يقال له ذو اليدين، قال: يا رسول الله أنسيت أم قصرت الصلاة؟! قال: لم أنس ولم تقصر -في رواية للبخاري أن ذا اليدين قال: بلى قد نسيت- فقال صلى الله عليه وسلم: أكما يقول ذو اليدين؟! فقالوا: نعم، فتقدم فصلى ما ترك ثم سلم، ثم كبر وسجد مثل سجوده أو أطول، ثم رفع رأسه وكبر، ثم كبر وسجد مثل سجوده أو أطول، ثم رفع رأسه وكبر ثم سلم”.
Sebagian ulama berpendapat bolehnya mengingatkan imam dengan ucapan (kalimat) yang menunjukkan kesalahan imam dalam shalatnya. Pendapat ini dinukil dari Rabi’ah dan Imam Malik. Mereka bersandarkan pada hadits yang terdapat dalam Bukhari (482) dan Muslim (573) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami, yaitu salah satu shalat di waktu malam. Beliau shalat dua rakaat kemudian salam. Beliau lalu berdiri di tiang kayu yang ditancapkan di masjid. Beliau bersandar di tiang tersebut.  Seakan-akan beliau marah. Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, dan beliau menjalin jari-jemarinya. Beliau meletakkan pipi kanannya di punggung telapak tangan kirinya. Beliau kemudian keluar dengan cepat dari pintu masjid. Para sahabat berkata,”Apakah shalat telah diqashar (diringkas)?” 
Di tengah-tengah para sahabat ada Abu Bakar dan Umar, namun keduanya enggan membicarakannya. Di tengah kerumunan tersebut juga terdapat seseorang yang tangannya panjang, dipanggil (dijuluki) dengan “dzul yadain.” Dia berkata,”Wahai Rasulullah, apakah Engkau lupa atau Engkau (sengaja) meringkas shalat?” Rasulullah berkata,”Aku tidak lupa dan tidak pula meringkas shalat.” Dalam riwayat Bukhari, dzul yadain berkata,”Bahkan Engkau lupa.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,”Apakah (benar) sebagaimana perkataan dzul yadain?” Para sahabat menjawab,”Ya.” Rasulullah pun maju dan menyempurnakan (melanjutkan) rakaat shalat yang beliau tinggalkan (maksudya, beliau tidak mengulangi shalat dari awal, pen.), kemudian salam. Kemudian beliau bertakbir, dan sujud sebagaimana sujud yang dilakukannya atau lebih lama, kemudian bangkit dari sujud sambil bertakbir. Setelah itu beliau bertakbir dan sujud kembali sebagaimana sujud yang dilakukannya atau lebih lama, kemudian bangkit dari sujud sambil bertakbir, dan kemudian salam.”
ووجه الدلالة من الحديث إجابة الصحابة رضي الله عنهم النبي صلى الله عليه وسلم لما سألهم أصدق ذو اليدين؟ فقد تبين لهم أنه قد نسي، وأن الصلاة لم تقصر، ولم يكن كلامهم مبطلا لصلاتهم، وهو استدلال فيه قوة، لو لا ما جاء في صحيح مسلم (537) من حديث معاوية بن الحكم السلمي رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس” فكلمة (شيء) نكرة في سياق النفي فتفيد العموم، ولهذا كان الأقرب للصواب ما ذهب إليه الجمهور.
Sisi pendalilan hadits di atas adalah respon atau jawaban para sahabat radhiyallahu ‘anhum atas pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika Rasulullah bertanya apakah perkataan dzul yadain tersebut memang benar. Para sahabat pun menjelaskan bahwa Rasulullah (memang) lupa dan beliau juga tidak sedang meng-qashar shalat. Ucapan para sahabat ini tidaklah membatalkan shalat mereka. Sisi pendalilan seperti ini kuat, seandainya tidak ada hadits yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya shalat ini, tidaklah layak di dalamnya sesuatu pun berupa ucapan manusia.” Kata “sesuatu” merupakan isim nakirah (kata benda indefinitif) yang berada dalam konteks kalimat nafi (peniadaan), maka mencakup umum (mencakup semua jenis ucapan atau kalimat, pen.) [1]. Oleh karena itu, yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.
ويجاب عن قصة ذي اليدين بأن إجابة النبي صلى الله عليه وسلم واجبة في الصلاة وغيرها؛ لقوله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ} [الأنفال:24]، أو يقال بأنه يجوز التنبيه بالكلام إذا ظن الإمام أنه قد خرج من الصلاة، أو يقصر الحديث على هذه الحادثة فقط، والله أعلم.
Kisah dzul yadain ini dijawab bahwa menjawab (merespon) pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya wajib, baik di dalam atau di luar shalat, berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya),”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfaal: 24) Atau bisa juga dikatakan, boleh mengingatkan dengan ucapan (selain tasbih, pen.) jika imam disangka akan menyelesaikan shalat. Atau, hadits ini dibatasi hanya dalam kasus seperti itu saja. Wallahu a’lam.  [Selesai fatwa Syaikh Khalid Mushlih.] [2] [Bersambung]
***
Selesai disusun menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, 20 Rajab 1436
Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,
Penulis: M. Saifudin Hakim
Catatan kaki:
[1] Menurut kaidah dalam ilmu ushul fiqh.
[2] Diterjemahkan dari: http://ar.islamway.net/fatwa/34227/
Artikel Muslim.Or.Id

Mengingatkan Kesalahan Imam Shalat Yang Kebingungan (2)

Ucapan (Manusia) di Luar Bacaan Shalat adalah Salah Satu Pembatal Shalat
Permasalahan berikutnya adalah, jika makmum mengingatkan imam dengan ucapan (kalimat) semisal, “Sujudnya kurang” atau kalimat sejenisnya, apakah shalat makmum menjadi batal? Permasalahan ini pernah ditanyakan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah.
وسئل فضيلة الشيخ: إذا كان الكلام في مصلحة الصلاة، مثل نسي الإمام قراءة الفاتحة، فنقول له اقرأ الفاتحة، وإذا نسي الركوع وسجد وقيل له سبحان الله فلم يفهم خطأه، فنقول له لم تركع… فهل ذلك يبطل الصلاة؟
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Jika kita mengucapkan suatu kalimat dalam rangka ada kebutuhan di dalam shalat, misalnya ketika imam lupa membaca Al-Fatihah, lalu kita mengucapkan kepadanya,”Bacalah Al-Fatihah.” Atau ketika lupa melakukan ruku’ dan sujud, dan dikatakan kepadanya, “Subhaanallah”, namun dia tidak bisa memahami kesalahannya, maka dikatakan kepada imam, “Engkau belum ruku’”, maka apakah ucapan semacam itu membatalkan shalat?
فأجاب فضيلته بقوله: نعم الكلام يبطل الصلاة، وأعني بالكلام كلام الآدميين والدليل على ذلك قصة معاوية بن الحاكم – رضي الله عنه – حين جاء والنبي صلى الله عليه وسلم يصلي بأصحابه فعطس رجل من القوم فقال: الحمد لله – قاله العاطس – فقال معاوية يرحكم الله، فرماه الناس بأبصارهم، فقال: واثكل أمياه – قاله معاوية – فجعلوا يضربون على أفخاذهم يسكتونه، فسكت، فلما قضى صلاته دعاه النبي صلى الله عليه وسلم، قال معاوية: فبأبي هو وأمي، ما رأيت معلماً أحسن تعليماً منه – صلوات الله وتسليمه عليه – والله ما كهرني، ولا نهرني وإنما قال: “إن هذه الصلا ة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس، إنما هو التسبيح والتكبير وقراءة القرآن”،
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjawab,
Benar bahwa ucapan (berkata-kata) bisa membatalkan shalat, yaitu perkataan (ucapan) manusia. Dalil masalah ini adalah kisah Mu’awiyah bin Hakam radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau datang (untuk shalat jamaah, pen.) dan Nabi sedang melaksanakan shalat dengan para sahabatnya. Maka salah seorang makmum bersin dan orang tersebut mengucapkan “alhamdulillah”. Maka Muawiyah mengatakan,”Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu).” Maka orang-orang pun memandang dengan tajam ke arah Muawiyah. Muawiyah pun berkata, “Duhai ibuku yang kehilangan aku.” Para sahabat pun kemudian memukulkan tangannya ke pahanya, dengan maksud agar Muawiyah diam. Muawiyah pun terdiam.
Ketika shalat telah selesai, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Muawiyah. Muawiyah berkata, Sungguh saya belum pernah melihat seorang pengajar yang cara mengajarnya lebih baik dari beliau. Demi Allah, beliau tidak membenciku, dan tidak pula mencelaku. Beliau hanya mengatakan kepadaku, “Sesungguhnya shalat ini tidak pantas di dalamnya terdapat sesuatu pun berupa percakapan manusia. Sesungguhnya shalat itu isinya adalah tasbih, takbir, dan bacaan Al Quran.
الشاهد قوله صلى الله عليه وسلم: “إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس” وهذا عام، فشيء نكرة في سياق النفي يفيد العموم سواء لمصلحة الصلاة لغير مصلحة الصلاة، وعلى هذا فلا يجوز لنا أن ننبه الإمام بشيء من الكلام، فإذا سجد قلنا سبحان الله في غير موضع السجود وقام وقلنا سبحان الله؛ لأنه ليس موضع القيام فلا نقول له اجلس لأنك إن قلت اجلس فإنك تكون قد كلمت الآدمي فتبطل صلاتك.
Sisi pendalilan adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya shalat ini tidak pantas di dalamnya terdapat sesuatu pun berupa percakapan manusia.Kalimat ini bersifat umum. Kata “sesuatu” adalah isim nakirah (kata benda indefinitif) dalam konteks peniadaan (nafi), sehingga menunjukkan makna umum, (mencakup) baik perkataan (ucapan) yang dibutuhkan dalam shalat (seperti mengingatkan imam, pen.) atau pun yang tidak dibutuhkan dalam shalat. Berdasarkan hal ini, maka tidak boleh bagi kita untuk mengingatkan dengan ucapan sedikit pun (selain ucapan subhaanallah, pen.). Jika imam sujud, katakanlah subhanallah, jika memang belum waktunya sujud. Jika imam berdiri, katakanlah subhanallah, jika memang belum waktunya berdiri. Jangan katakan, “Duduklah”, karena jika Engkau mengatakan, “Duduklah”, maka Engkau telah berkata-kata dengan ucapan manusia yang membatalkan shalatmu.
فإذا تكلم أحد الناس جاهلاً فلا عليه إعادة، ولهذا لم يأمر النبي صلى الله عليه وسلم معاوية بالإعادة مع أنه تكلم مرتين، مرة قال للعاطس (يرحمك الله) ومرة قال: (واثكل أمياه) ولم يأمره بالإعادة، لكن لو أن الإمام في صلاة جهرية نسي أن يجهر فقلنا له سبحان الله فلم يفهم، فكيف ننبهه؟
الجواب: نقرأ جهراً يرفع أحد المصلين صوته بقراءة الفاتحة فينتبه الإمام
Jika seseorang berkata-kata karena tidak tahu, maka tidak perlu mengulang shalatnya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan Muawiyah untuk mengulang shalatnya, padahal Muawiyah berkata-kata sebanyak dua kali. Sekali ketika berkata kepada orang yang bersin, “Semoga Allah merahmatimu”; dan sekali berkata, “Duhai ibuku yang kehilangan aku.”; dan Nabi tidak memerintahkan Muawiyah untuk mengulang shalatnya. Akan tetapi, jika dalam shalat yang bacaannya dikeraskan, imam lupa untuk tidak mengeraskan bacaannya, dan kita katakan kepadanya, “Subhanallah”, namun imam tidak paham, maka bagaimana cara mengingatkannya? Jawabannya, salah seorang makmum membaca surat Al-Fatihah dengan keras untuk mengingatkan imam.” [Selesai fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah] [1]

Lalu Bagaimana Solusi jika Imam Tidak Mengetahui Letak Kesalahannya?

Dalam fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah di atas, terdapat solusi jika imam lupa mengeraskan bacaan Al Fatihah, yaitu salah satu makmum mengeraskan bacaan Al-Fatihah. Dalam kasus pertama (yang kami paparkan di bagian pertama tulisan ini), yaitu jika imam hanya sujud satu kali, dan diingatkan oleh makmum, namun tidak paham, maka bagaimanakah solusinya?
Terdapat penjelasan menarik yang disampaikan oleh Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin rahimahullah dalam fatwanya berikut ini.
هل يجوز التكلم لتنبيه الإمام ، مثل قول : قم ، أو اجلس بعد عدم فهمه لقولنا : سبحان الله؟
Pertanyaan: Bolehkah berkata-kata untuk mengingatkan imam, misalnya dengan mengatakan, Berdirilahatau Duduklahsetelah imam tidak memahami ucapan kita, Subhaanallah”?
يقولون : إذا احتيج إلى الكلام في مصلحة الصلاة مع كون الإمام لم يفهم المطلوب ، فيمكن أن يختار كلمة من القرآن إذا كان يستحضر ، فمثلا : إذا أراد منه أن يقوم قرأ عليه : { وقوموا لله قانتين } [ البقرة : 238 ] يعني : أمر بالقيام ، وإذا أراد له أن يجلس أو أن يقعد جاء بمثل قوله تعالى : { وقيل اقعدوا مع القاعدين } [ التوبة : 46 ] أو نحو ذلك .
وكذلك إذا أراد منه الركوع قرأ عليه : { اركعوا مع الراكعين } [ البقرة : 43 ] أو أراد منه السلام ، قرأ عليه : { وسلموا تسليما } [ الأحزاب : 56 ] وما أشبه ذلك فإذا لم يستحضر ذلك ، وقال له : اسجد بدون كلمة ( ( واقترب ) ) أو قال له : اجلس ، عفي عن ذلك ؛ لأنه من مصلحة الصلاة .
Jawaban Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin rahimahullah:
Jika memang dibutuhkan untuk berkata-kata dalam rangka ada kebutuhan dalam shalat, ketika imam tidak memahami maksud kita, maka mungkin bisa memilih kalimat dari Al Qur’an jika kita menghafalnya. Misalnya, jika kita menghendaki imam untuk berdiri, kita baca firman Allah Ta’ala,
وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 238).
Maksudnya, kita memerintahkan (imam) untuk berdiri. Jika kita menghendaki imam agar duduk, kita bisa membaca semisal firman Allah Ta’ala,
وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ
Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah [9]: 46) atau ayat-ayat semisal itu.
Demikian pula, jika kita menghendaki agar imam ruku’, maka kita baca firman Allah Ta’ala,
وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Dan ruku’-lah bersama-sama dengan orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43).
Jika kita menghendaki agar imam salam, kita baca firman Allah Ta’ala,
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 56); atau ayat-ayat semisal itu.
Jika tidak ada yang hafal, lalu berkata, “Sujudlah” tanpa kalimat (yang artinya), “dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” [2]; atau berkata kepada imam, “Duduklah”, maka hal ini dimaafkan (tidak masalah), karena termasuk kebutuhan dalam shalat.” [Selesai fatwa Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah] [3, 4]
Semoga penjelasan ini bermanfaat untuk kaum muslimin. [Selesai]
***
Selesai disusun menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, 22 Rajab 1436
Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,
Penulis: M. Saifudin Hakim
Catatan kaki:
[1] Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Syaikh Al-‘Utsaimin, 14/25-26 (Maktabah Asy-Syamilah).
[2] Yaitu firman Allah Ta’ala dalam surat Al-‘Alaq [96] ayat 19.
[3] Demikianlah pendapat yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah. Namun, wallahu Ta’ala a’lam, pendapat yang lebih tepat adalah bahwa ucapan (manusia) seperti ini tidak diperbolehkan berdasarkan makna umum yang tercakup hadits Muawiyah bin Hakam radhiyallahu ‘anhu.
Artikel Muslim.Or.Id