بسم الله الرحمن الرحيم
Khusyu’ dalam ibadah kedudukannya seperti ruh/jiwa dalam tubuh manusia1, sehingga ibadah yang dilakukan tanpa khusyu’ adalah ibarat tubuh tanpa jasad alias mati.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala memuji para Nabi dan Rasul Shallallahu’alaihi Wasallam dengan
sifat mulia ini, yang mereka adalah hamba-hamba-Nya yang memiliki
keimanan yang sempurna dan selalu bersegera dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:
{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ}
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang
selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan
mereka (selalu) berdoa kepada Kami dengan berharap dan takut. Dan mereka
adalah orang-orang yang khusyu’ (dalam beribadah)” (QS al-Anbiyaa’: 90).
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang shaleh dengan sifat-sifat mulia yang ada pada mereka, di antaranya sifat khusyu’:
{إِنَّ
الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ
وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ
وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ
وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ
كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا
عَظِيمًا}
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang
muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan
yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar,
laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang
khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan
perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara
kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)
Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar” (QS al-Ahzaab: 35).
Bahkan Allah Ta’ala menjadikan sifat agung ini termasuk ciri utama orang-orang yang sempurna imannya dan sebab keberuntungan mereka2, dalam firman-Nya:
{قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ}
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (QS al-Mu’minuun: 1-2)”.
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memohon kepada Allah Ta’ala sifat mulia ini dalam doa beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai
orang miskin, kumpulkanlah aku di dalam golongan orang-orang miskin
pada hari kiamat”3.
Arti “orang miskin” dalam hadits ini adalah orang yang selalu merendahkan diri, tunduk dan khusyu’ kepada Allah Ta’ala4.
Arti khusyu’ dan hakikatnya
Secara bahasa khusyu’ berarti as-sukuun (diam/tenang) dan at-tadzallul (merendahkan diri). Sifat mulia ini bersumber dari dalam hati yang kemudian pengaruhnya terpancar pada anggota badan manusia.
Imam Ibnu Rajab berkata: “Asal (sifat) khusyu’ adalah
kelembutan, ketenangan, ketundukan, dan kerendahan diri dalam hati
manusia (kepada Allah Ta’ala). Tatkala Hati manusia telah
khusyu’ maka semua anggota badan akan ikut khusyu’, karena anggota badan
(selalu) mengikuti hati, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika
segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika
segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia,
ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”.
Maka jika hati seseorang khusyu’, pendengaran,
penglihatan, kepala, wajah dan semua anggota badannya ikut khusyu’,
(bahkan) semua yang bersumber dari anggota badannya”5.
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Para ulama sepakat
(mengatakan) bahwa khusyu’ tempatnya dalam hati dan buahnya (tandanya
terlihat) pada anggota badan”6.
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Khusyu’ dalam shalat adalah hadirnya hati (seorang hamba) di hadapan Allah Ta’ala
dengan merasakan kedekatan-Nya, sehingga hatinya merasa tentram dan
jiwanya merasa tenang, (sehingga) semua gerakan (angota badannya)
menjadi tenang, tidak berpaling (kepada urusan lain), dan bersikap
santun di hadapan Allah, dengan menghayati semua ucapan dan perbuatan
yang dilakukannya dalam shalat, dari awal sampai akhir. Maka dengan ini
akan sirna bisikan-bisikan (Setan) dan pikiran-pikiran yang buruk.
Inilah ruh dan tujuan shalat”7.
Inilah makna ucapan salah seorang ulama salaf ketika
beliau melihat seorang laki-laki yang bermain-main dalam shalatnya:
“Seandainya hati orang ini khusyu’ maka akan khusyu’ semua anggota
tubuhnya”8.
Lebih lanjut, imam al-Bagawi memaparkan makna ini
dalam ucapan beliau: “Para ulama berbeda (pendapat) dalam makna khusyu’,
Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu berkata: “(Orang-orang yang khusyu’ adalah) mereka yang selalu tunduk dan merendahkan diri (kepada Allah Ta’ala).
al-Hasan (al-Bashri) dan Qatadah berkata: “(Mereka adalah) orang-orang
yang selalu takut (kepada-Nya)”. Muqatil berkata: “(Mereka adalah)
orang-orang yang merendahkan diri (kepada-Nya)”. Mujahid berkata:
“Khusyu’ adalah menundukkan pandangan dan merendahkan suara”. Khusyu’
(artinya) mirip dengan khudhu’, cuma khudhu’ ada pada (anggota) badan,
sedangkan khusyu’ ada pada hati, badan, pandangan dan suara. Allah Ta’ala berfirman:
{وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ}
“Dan (pada hari kiamat) khusyu’lah (merendahlah) semua suara kepada Yang Maha Pemurah” (QS Thaahaa: 108)”9.
Khusyu’ adalah buah manis dari ilmu yang bermanfaat
Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
pernah berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang
tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan”10.
Dalam hadits yang agung ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
menggandengkan empat perkara yang tercela ini, sebagai isyarat bahwa
ilmu yang tidak bermanfaat memiliki tanda-tanda buruk, yaitu hati yang
tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak
dikabulkan11, nu’uudzu billahi min dzaalik.
Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Hadits ini
menunjukkan bahwa ilmu yang tidak menimbulkan (sifat) khusyu’ dalam hati
maka ini adalah ilmu yang tidak bermanfaat”12.
Maka hadits ini merupakan argumentasi yang
menunjukkan bahwa sifat khusyu’ adalah termasuk buah yang manis dan
agung dari ilmu yang bermanfaat.
Imam al-‘Ala-i berkata: “Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam (dalam hadits ini) menggandengkan antara memohon perlindungan (kepada Allah Ta’ala)
dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari hati yang tidak khusyu’,
(maka) ini mengisyaratkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang
mewariskan sifat khusyu’ (dalam diri manusia)”13.
Lebih lanjut, imam Ibnu Rajab menjelaskan keterikatan
antara ilmu yang bermanfaat dan sifat khusyu’ dalam ucapan beliau:
“Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang merasuk dan menyentuh hati
manusia, kemudian menumbuhkan dalam hati ma’rifatullah (mengenal Allah Ta’ala
dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha
sempurna) dan meyakini kemahabesaran-Nya, (demikian pula) rasa takut,
pengagungan, pemuliaan dan cinta (kepada-Nya). Tatkala sifat-sifat ini
telah menetap dalam hati (seorang hamba), maka hatinya akan khusyu’ lalu
semua anggota badannyapun akan khusyu’ mengikuti kekhsyu’an hatinya”14.
Inilah keutamaan khusyu’ yang merupakan buah utama
ilmu yang bermanfaat, sekaligus merupakan ilmu yang pertama kali
diangkat oleh Allah Ta’ala dari muka bumi ini15, sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Darda’ Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Yang
pertama kali diangkat (oleh Allah) dari umat ini adalah sifat khusyu’,
sehingga (nantinya) kamu tidak akan melihat lagi seorang yang khusyu’
(dalam ibadahnya)”16.
Khusyu’ dalam shalat
Sifat khusyu’ dituntut dalam semua bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, akan tetapi dalam ibadah shalat, sifat yang agung ini lebih terlihat wujud dan pengaruh positifnya.
Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Sungguh Allah
telah mensyariatkan bagi hamba-hamba-Nya berbagai macam ibadah yang akan
tampak padanya kekhusyu’an (anggota) badan (seorang hamba) yang
bersumber dari kekhusyu’an, ketundukan dan kerendahan diri dalam
hatinya. Dan termasuk ibadah yang paling tampak padanya kekhusyu’an
adalah ibadah shalat. Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang khusyu’ dalam shalat mereka dalam firman-Nya:
{قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ}
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (QS al-Mu’minuun: 1-2)”17.
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata:
“Para ulama menafsirkan (arti) khusyu’ dalam shalat yaitu diamnya
anggota badan yang disertai dengan ketenangan (dalam) hati. Maksudnya:
menghadirkan/mengkonsentrasikan hati dalam shalat dan menjadikan anggota
badan tenang, maka tidak ada perbuatan sia-sia dan bermain-main (dalam
shalat) disertai hati yang hadir berkonsentrasi menghadap ke pada Allah Ta’ala. Tatkala hati (seorang hamba) menghadap kepada Allah Ta’ala
yang maha mengetahui isi hati, maka pasti hamba tersebut akan (meraih)
khusyu’ (dalam shalatnya) dan memusatkan pikirannya kepada Zat yang dia
sedang bermunajat kepada-Nya, yaitu Allah Ta’ala. Kalau demikian khusyu’ adalah sifat ruhani dalam diri manusia yang menimbulkan ketenangan dalam hati dan anggota badan”18.
Ciri inilah yang ada pada orang-orang yang sempurna keimanannya, para Shahabat Radhiallahu’anhum, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:
{سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ}
“Tanda-tanda meraka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud” (QS al-Fath: 29).
Imam Mujahid dan beberapa ulama ahli tafsir lainnya
berkata tentang makna ayat ini: “Yaitu Khusyu’ (dalam shalat) dan
tawadhu’ (sikap merendahkan diri)”19.
Lebih lanjut, imam Ibnu Katsir menjelaskan manfaat
dan faidah besar dari shalat yang khusyu’ dalam membawa seorang mukmin
untuk merasakan kemanisan iman dan menjadikan shalatnya sebagai qurratul ‘ain (penyejuk/penghibur hati) baginya. Beliau berkata20:
“Khusyu’ dalam shalat hanyalah akan diraih oleh orang yang hatinya
tercurah sepenuhnya kepada shalat (yang sedang dikerjakannya), dia hanya
menyibukkan diri dan lebih mengutamakan shalat tersebut dari hal-hal
lainnya. Ketika itulah shalat akan menjadi (sebab) kelapangan (jiwanya)
dan kesejukan (hatinya), sebagamana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits riwayat imam Ahmad dan an-Nasa-i, dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Allah menjadikan qurratul ‘ain (penyejuk/penghibur hati) bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat”21.
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada Bilal Radhiallahu’anhu:
“Wahai Bilal, senangkanlah (hati) kami dengan (melaksanakan) shalat”22.
Cara untuk meraih khusyu’
Dikarenakan sifat khusyu’ sumbernya dari dalam hati
manusia, maka sifat ini hanya bisa diraih dengan taufik dan anugerah
dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, cara utama untuk meraih sifat
mulia ini dan sifat-sifat agung lainnya dalam agama adalah dengan
banyak berdoa dan memohon kepada Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, imam Mutharrif bin ‘Abdillah bin
asy-Syikhkhiir berkata: “Aku mengingat-ingat apakah penghimpun segala
kebaikan, karena kebaikan itu banyak; puasa, shalat (dan lain-lain).
Semua kebaikan itu ada di tangan Allah Ta’ala, maka jika kamu tidak mampu (memiliki) apa yang ada di tangan Allah Ta’ala kecuali dengan memohon kepada-Nya agar Dia memberikan semua itu kepadamu, maka berarti penghimpun (semua) kebaikan adalah berdoa (kepada Allah Ta’ala)”23.
Kemudian sifat khusyu’ akan diraih insya Allah dengan seorang hamba mengenal Allah Ta’ala
dengan cara yang benar,melalui pemahaman terhadap nama-nama-Nya yang
maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna. Inilah ilmu yang
paling mulia dalam Islam dan merupakan jalan utama untuk meraih semua
sifat dan kedudukan yang mulia di sisi Allah Ta’ala.
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Orang yang paling sempurna dalam penghambaan diri (kepada Allah Ta’ala)
adalah orang yang menghambakan diri (kepada-Nya) dengan (memahami
kandungan) semua nama dan sifat-Nya yang (bisa) diketahui oleh manusia”24.
Imam Ibnu Rajab al-Hambali memaparkan hal ini dalam ucapan beliau:
“Asal (sifat) khusyu’ yang terdapat dalam hati tidak lain (bersumber) dari ma’rifatullah (mengenal Allah Ta’ala
dengan memahami nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang
maha sempurna), mengenal keagungan-Nya, kemuliaan-Nya dan
kesempurnaan-Nya. Sehingga barangsiapa yang lebih mengenal Allah maka
dia akan lebih khusyu’ (kepada-Nya).
Sifat khusyu’ dalam hati manusia dalam hati manusia
bertingkat-tingkat (kesempurnaannya) sesuai dengan bertingkat-tingkatnya
pengetahuan (dalam) hati manusia terhadap Zat yang dia tunduk
kepada-Nya (Allah Ta’ala) dan sesuai dengan bertingkat-tingkatnya penyaksian hati terhadap sifat-sifat yang menumbuhkan kekhusyu’an (kepada Allah Ta’ala).
Ada hamba yang (meraih) khusyu’ (kepada-Nya) karena
penyaksiannya yang kuat terhadap kemahadekatan dan penglihatan-Nya (yang
sempurna) terhadap apa yang tersembunyi dalam hati hamba-Nya, sehingga
ini menimbulkan rasa malu kepada Allah Ta’ala dan selalu merasakan pengawasan-Nya dalam semua gerakan dan diamnya hamba tersebut.
Ada juga yang (meraih) khusyu’ karena penyaksiannya
terhadap kemahasempurnaan dan kemahaindahan-Nya, sehingga ini
menjadikannya tenggelam dalam kecintaan kepada-Nya serta kerinduan untuk
bertemu dan memandang wajah-Nya.
(Demikian pula) ada yang meraih khusyu’ karena
penyaksiannya terhadap kerasnya siksaan, pembalasan dan hukuman-Nya,
sehingga ini membangkitkan rasa takutnya kepada Allah.
Maka Allah Ta’ala Dia-lah yang memperbaiki hati hamba-hamba-Nya yang tanduk dan remuk hatinya kepada-Nya. Allah Ta’ala
maha dekat kepada hamba-Nya yang bermunajat kepada-Nya dalam shalat dan
menempelkan wajahnya ke tanah ketika sujud, sebagaimana Dia maha dekat
kepada hamba-Nya yang berdoa, memohon dan meminta ampun kepada-Nya atas
dosa-dosanya di waktu sahur. Dia maha mengabulkan doa hamba-Nya serta
memenuhi permohonannya, dan tidak ada sebab untuk memberbaiki kekurangan
seorang hamba yang lebih agung dari kedekatan dan pengabulan doa
dari-Nya”25.
Pemaparan imam Ibnu Rajab di atas merupakan makna firman Allah Ta’ala:
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allah Ta’ala)” (QS Faathir:28).
Imam Ibnu Katsir berkata: “Arti (ayat ini): Hanyalah
orang-orang yang berilmu dan mengenal Allah yang memiliki rasa takut
yang sebenarnya kepada Allah, karena semakin sempurna pemahaman dan
penegetahuan (seorang hamba) terhadap Allah, Zat Yang Maha Mullia, Maha
kuasa dan Maha Mengetahui, yang memiliki sifat-sifat yang maha sempurna
dan nama-nama yang maha indah, maka ketakutan (hamba tersebut)
kepada-Nya semakin besar pula”26.
Catatan Kaki
1 Lihat kitab “Bada-i’ul fawa-id” (3/518), “Faidhul Qadiir” (3/88), “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 547) dan “Taudhiihul ahkaam min buluugil maraam” (2/82).
2 Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 547).
3
HR at-Tirmidzi (4/577), Ibnu Majah (no. 4126) dan al-Hakim (4/358),
dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, imam adz-Dzahabi dan syaikh
al-Albani.
4 Lihat kitab “al-Khusyu’ fish shalaah” (hal. 34) dan “Tuhfatul ahwadzi” (7/16).
5 Kitab “al-Khusyu’ fish shalaah” (hal. 11-12).
6 Kitab “Mada-rijus saalikiin” (1/521).
7 Keterangan syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 547).
8 Dinukil oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Majmu’ul fata-wa” (18/273) dan imam Ibnu Rajab dalam “al-Khusyu’ fish shalaah” (hal. 12).
9 Kitab “Tafsir al-Baghawi” (hal. 408).
10 HSR Muslim (no. 2722).
11 Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/319) dan “Faidhul Qadiir” (2/108).
12 “Waratsatul anbiyaa’” (Majmuu’u rasa-ilil haafizh Ibni Rajab al-Hambali 1/17).
13 Dinukil oleh imam al-Munawi dalam kitab “Faidhul Qadiir” (2/153).
14 “Waratsatul anbiyaa’” (Majmuu’u rasa-ilil haafizh Ibni Rajab al-Hambali 1/16).
15 Lihat kitab “al-Khusyuu’u fish shalaah” (hal. 15).
16 HR ath-Thabarani dalam “Musnadusy Syaamiyyiin” (2/400), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam “al-Jaami’ush shahiih” (no. 2569).
17 Kitab “al-Khusyu’ fish shalaah” (hal. 22).
18 Kitab “Fathu Dzil jalaali wal ikraam bisyarhi buluugil maraam” (1/571).
19 Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (4/260).
20 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/319).
21 HR Ahmad (3/128) dan an-Nasa-i (7/61), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.
22 HR Abu Daud (2/715) dan Ahmad (5/364), dinyatakan shahih oleh syaikh Al Albani.
23 Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam kitab “az-Zuhd” (no. 1346).
24 Kitab “Madaarijus saalikiin” (1/420).
25 Kitab “al-Khusyu’ fish shalaah” (hal. 14).
26 Tafsir Ibnu Katsir (3/729).
—
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni
Artikel Muslim.Or.Id
Artikel Muslim.Or.Id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar