Sesungguhnya Ibadah Shalat merupakan sebaik-baiknya amal, ia mempunyai
kedudukan yang mulia di sisi Allah Subhânahu wa Ta'âla, ibadah inilah
yang membedakan antara orang mukmin dan kafir. Ia merupakan ibadah yang
mampu melebur dosa seseorang. Ketika seorang mukmin mengetahui betapa
pentingnya shalat dan begitu mulianya kedudukannya di sisi Allah
Subhânahu wa Ta'âla, maka tentu sebagai seorang muslim kita harus
melaksanakannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan
oleh aturan Syariat kita, yaitu Islam. Shalat khusyu' merupakan dambaan
setiap kita, bahkan berbagai macam cara yang dilakukan seseorang untuk
menggapai Shalat khusyu', diantara mereka ada yang mematikan lampu
ketika shalat, ada yang memejamkan matanya, ada yang mengosongkan semua
fikirannya, ada yang merasakan terbangnya rohnya ketika shalat, bahkan
untuk menggapai kekhusyukan mereka membuat pelatihan-pelatihan shalat
khusyu'. Tentunya semua hal ini menimbulkan suatu pertanyaan, apakah
memang seperti itu shalat khusyu'? Apakah cara-cara seperti tersebut
sudah sesuai menurut tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?
Insya Allah melalui beberapa edisi buletin ini kita akan kupas kenapa
pentingnya shalat khusyu'? Apa definisi khusyu' ? Apa hukumnya dan apa
kiat-kiat untuk menggapainya?
Pentingnya Khusyu' dalam Shalat.
Khusyu' merupakan perkara agung, cepat sirnanya dan jarang keberadaanya
ditemukan, khususnya di akhir zaman ini yang penuh dengan berbagai macam
fitnah dan godaan, baik godaan dari manusia maupun godaan dari syetan
yang berupaya memalingkan manusia dari kekhusyukan.
Jauhnya manusia dari kekhusyukan dalam melaksanakan shalat, hal ini
adalah benar adanya, bahkan seorang sahabat besar yang bernama Huzaifah
ibnu Yaman radhiyallahu 'anhu telah menggambarkan: "Yang pertama kali
yang akan hilang dari agamamu adalah khusyuk', dan hal yang terakhir
yang akan hilang dari agamamu adalah shalat. Betapa banyak orang shalat
tetapi tiada kebaikan padanya, hampir saja engkau memasuki masjid,
sementara tidak ditemukan diantara mereka orang yang khusyuk."
(Madarijussalikin, Imam Ibnul Qayyim 1/521)
Bila kita tanyakan dan kita pantau shalat yang dilakukan oleh sebagian
kaum muslimin, maka jawabannya adalah mereka jauh dari kekhusyukan.
Fikiran mereka menerawang entah kemana, hati mereka lalai, bahkan
was-was dari syetanpun muncul tatkala mereka melaksanakan shalat, Oleh
karena itu pembahasan seputar tentang shalat khusyuk ini merupakan
pembahasan yang sangat penting sekali, dan dibutuhkan oleh kaum muslimin
yang ingin meningkatkan kualitas ibadah shalatnya. Dimana hal ini akan
membawa mereka kepada kebahagian dan kemenangan, sebagaimana yang telah
disebutkan Allah Subhânahu wa Ta'âla di dalam al-Qurân: "Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyu' dalam
shalatnya." (QS. al-Mu'minuun: 1-2)
Makna Khusyu'
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan bahwa Khusyu'
adalah: "Ketenangan, tuma'ninah, pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu',
serta merasa takut dan selalu merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla."
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa Khusyu' adalah:
"Menghadapnya hati di hadapan Robb ‘Azza wa Jalla dengan sikap tunduk
dan rendah diri." (Madarijusslikin 1/520 )
Definisi lain dari khusyu' dalam shalat adalah: "Hadirnya hati di
hadapan Allah Subhânahu wa Ta'âla, sambil mengkonsertasikan hati agar
dekat kepada Allah Subhânahu wa Ta'âla, dengan demikian akan membuat
hati tenang, tenangnya gerakan-gerakannya, beradab di hadapan Robbnya,
konsentrasi terhadap apa yang dia katakan dan yang dilakukan dalam
shalat dari awal sampai akhir, jauh dari was-was syaithan dan pemikiran
yang jelek, dan ia merupakan ruh shalat. Shalat yang tidak ada
kekhusyukan adalah shalat yang tidak ada ruhnya." (Tafsir Taisir
Karimirrahman, oleh Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa'di)
Letak Khusyu'
Tempat khusyu' adalah di hati, sedangkan buahnya akan tampak pada
anggota badan. Anggota badan hanya akan mengikuti hati, jika kekhusyukan
rusak akibat kelalaian dan kelengahan, serta was-was, maka rusaklah
‘ubudiyah anggota badan yang lain. Sebab hati adalah ibarat raja,
sedangkan anggota badan yang lainnya sebagai pasukan dan bala
tentaranya. Kepadanya-lah mereka ta'at dan darinya-lah sumber segala
perintah, jika sang raja dipecat dengan bentuk hilangnya penghambaan
hati, maka hilanglah rakyat yaitu anggota-anggota badan.
Dengan demikian, menampakkan kekhusyukkan dengan anggota badan, atau
melalui gerakan-gerakan, supaya orang menyangka bahwa si fulan khusyu',
maka hal itu adalah sikap yang tercela, sebab diantara tanda-tanda
keikhlasan adalah menyembunyikan kekhusyukan.
Suatu ketika Huzaifah bin Yaman radhiyallahu 'anhu berkata: "Jauhilah
oleh kalian kekhusyukan munafik, lalu ditanyakan kepadanya: Apa yang
dimaksud kekhusyukan munafik? Ia menjawab: "Engkau melihat jasadnya
khusyu' sementara hatinya tidak".
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah membagi khusyu' kepada dua macam, yaitu khusyu' nifaq dan khusyuk iman.
Khusyu' nifaq adalah: "Khusyu' yang tampak pada permukaan anggota badan
saja dalam sifatnya, yang dipaksakan dan dibuat-buat, sementara hatinya
tidak khusyuk."
Khusyuk iman adalah: "Khusyuknya hati kepada Allah Subhânahu wa Ta'âla
dengan sikap mengagungkan, memuliakan, sikap tenang, takut dan malu.
Hatinya terbuka untuk Allah Subhânahu wa Ta'âla, dengan keterbukaan yang
diliputi kehinaan karena khawatir, malu bercampur cinta menyaksikan
nikmat-nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dan kejahatan dirinya sendiri. Dengan
demikian secara otomatis hati menjadi khusyu' yang kemudian diikuti
khusyu'nya anggota badan."
Hukum Khusyu' dalam Shalat.
Menurut pendapat yang kuat, bahwa khusyu' dalam shalat hukumnya wajib.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam menafsirkan
firman Allah Ta'âla: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,
dan sesungguhnya yang demikian itu lebih berat, kecuali bagi orang-orang
yang khusyu'." (QS. al-Baqarah: 45)
Beliau rahimahullah mengomentari ayat tersebut dengan mengatakan: "Ayat
tersebut mengandung celaan atas orang-orang yang tidak khusyu' dalam
shalat, celaan tidak akan terjadi kecuali karena meninggalkan
perkara-perkara penting atau wajib, atau karena keharaman yang
dilakukan".
Kemudian bila kita lihat dalam al-Qurân Allah Subhânahu wa Ta'âla
menjelaskan sifat-sifat calon penghuni surga firdaus: "Sungguh
beruntunglah orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyu' dalam
shalatnya." (QS. al-Mu'minuun: 1-2), pada ayat ke 11 Allah Subhânahu wa
Ta'âla memberikan isyarat, (bagi orang yang khusyu'), dengan mengatakan:
"Mereka itulah, orang-orang yang mewarisi Surga Firdaus, mereka kekal
di dalamnya." (QS. al-Mu'minuun: 11)
Melalui ayat tersebut Allah Subhânahu wa Ta'âla mengabarkan bahwa mereka
(orang yang khusyu') adalah calon pewaris Jannatul Firdaus. Hal
tersebut mengisyaratkan bahwa selain mereka tidak layak mewarisinya.
Meraih surga bagi seorang muslim hukumnya adalah wajib, maka jalan atau
wasilah untuk mencapai surga tersebut hukumnya juga wajib, dan shalat
yang khusyu' hukumnya ikut menjadi wajib karena merupakan salah satu
sarana untuk meraih surga firdaus.
Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyu' Menurut Tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam .
Dalam meraih shalat khusyu' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
telah memberikan kiat-kiat yang jelas, bahkan para ulama telah membuat
bab-bab dalam kitab-kitab mereka, seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani
rahimahullah membuat Bab Anjuran Khusyu' dalam Shalat.
Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Munajjid rahimahullah dalam kitab beliau
"33 Kiat Mencapai Khusyu' dalam Shalat" menjelaskan; bahwa untuk
mencapai khusyu' dalam shalat ada dua hal pokok yang perlu diperhatikan:
1. Memperhatikan hal-hal yang mendatangkan kekhusyukan dalam shalat.
2. Menolak hal-hal yang menghilangkan kekhusyukan dan melemahkannya.
Ad1. Memperhatikan hal-hal yang mendatangkan kekhusyukan dalam shalat
Untuk mencapai hal-hal yang akan mendatangkan kekhusyukan ada beberapa
kiat yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, diantaranya:
a. Mempersiapkan diri sepenuhnya untuk shalat
Adapun bentuk-bentuk persiapannya yaitu: ikut menjawab azan yang
dikumandangkan oleh muazin, kemudian diikuti dengan membaca do'a yang
disyariatkan, bersiwak karena hal ini akan membersihkan mulut dan
menyegarkannya, kemudian memakai pakaian yang baik dan bersih,
sebagaimana firman Allah Ta'âla: "Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang
indah di setiap memasuki masjid, makanlah dan minumlah. Jangan
berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan."
(QS. al-A'raaf: 31)
Diantara bentuk persiapan lain adalah berjalan ke masjid dengan penuh
ketenangan dan tidak tergesa-gesa, lalu setelah sampai di depan masjid,
maka masuk dengan membaca do'a dan keluar darinya juga membaca do'a,
melaksanakan shalat sunnat Tahiyyatul masjid ketika telah berada di
dalam masjid, merapatkan dan meluruskan shaf, karena syetan berupaya
untuk mencari celah untuk ditempatinya dalam barisan shaf shalat.
Dengan melakukan bentuk persiapan tersebut maka Insya Allah akan membantu dalam kekhusyukan.
b. Tuma'ninah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu tuma'ninah dalam
shalatnya, sehingga seluruh anggota badannya menempati posisi semula,
bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan orang yang
buruk shalatnya supaya melakukan tuma'ninah sebagaimana sabda beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tidak sempurna shalat salah seorang
diantara kalian, kecuali dengannya (tuma'ninah)."
Bahkan di dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam menyamakan orang yang tidak tuima'ninah tersebut dengan orang
yang mencuri dalam shalatnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Qatadah
radhiyallahu 'anhu: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Seburuk-buruk pencurian yang dilakukan manusia adalah orang
yang mencuri shalatnya." Qatadah berkata: "Ya Rasulullah, bagaimana
seseorang tersebut di katakan mencuri shalatnya? Beliau shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Ia tidak menyempurnakan ruku' dan
sujudnya." (HR. Ahmad dan al-Hakim 1/229)
Orang yang tidak tuma'ninah dalam shalatnya, tentu tidak akan merasakan
kekhusyukan, sebab menunaikan shalat dengan cepat akan menghilangkan
kekhusyukan, sedangkan shalat seperti mematuk burung, maka hal itu akan
menghilangkan pahala.
Oleh karena itulah karena pentingnya tuma'ninah, maka wajib bagi seorang
muslim untuk tuma'ninah dalam shalatnya sehingga shalatnya diterima
oleh Allah Ta'âla.
C. Mengingat mati ketika shalat
Hal ini berdasarkan wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Apabila engkau shalat maka shalatlah seperti orang yang hendak berpisah
(mati)". (HR. Ahmad V/412, Shahihul Jami', no. 742)
Jelaslah bahwasanya hal ini akan mendorong setiap orang untuk
bersungguh-sungguh dalam shalatnya, karena orang yang akan berpisah
tentu akan merasa kehilangan dan tidak akan berjumpa kembali, sehingga
akan muncul upaya dari dalam dirinya untuk bersungguh-sungguh, dan hal
ini seolah-olah baginya merupakan kesempatan terakhir untuk shalat.
D. Menghayati makna bacaan shalat
Al-Qurân diturunkan agar direnungkan dan dihayati maknanya, sebagaimana
firman-Nya ‘Azza wa Jalla: "Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan
kepadamu penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan
supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran". (QS.
Shaad: 29)
Sikap penghayatan tidak akan terwujud kecuali dengan memahami makna
swetiap yang kita baca. Dengan memahami maknanya, maka seseorang akan
dapat menghayati dan berfikir tentangnya, sehingga mengucurlah air
matanya, karena pengaruh makna yang mendalam sampai ke lubuk hatinya.
Dalam hal ini Allah Subhânahu wa Ta'âla berfirman: "Dan orang-orang yang
apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Robb mereka, mereka tidaklah
menghadapinya sebagai orang yang tuli dan buta". (QS. al-Furqan: 73)
Di dalam ayat yang mulia ini Allah Subhânahu wa Ta'âla menjelaskan
betapa pentingnya memperhatikan makna dari ayat yang dibaca. al-Imam
Ibnu Jarir rahimahullah berkata: "Sesungguhnya saya sangat heran kepada
orang yang membaca al-Qurân, sementara dia tidak mengetahui maknanya.
Bagaimana mungkin dia akan mendapatkan kelezatan ketika dia membacanya?
(Muqaddimah Tafsir at-Thobari karya Muhammad Syakir)
E. Membaca surat sambil berhenti pada tiap ayat
Hal ini merupakan kebiasaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
sebagaimana yang dikisahkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu 'anha tentang
bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam membaca
al-fatihah, yaitu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam membaca Basmalah,
kemudian berhenti, kemudian membaca ayat berikutnya lalu berhenti.
Demikian seterusnya sampai selesai (HR. Abu Daud, no. 4001)
F. Membaca al-Qurân dengan tartil
Hal ini berdasarkan firman Allah Subhânahu wa Ta'âla: "Dan bacalah al-Qurân dengan perlahan-lahan". (QS. al-Muzammil: 4)
Dan diriwayatkan dengan shahih bahwa bacaan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam adalah perlahan-lahan serta satu huruf-satu huruf
(Musnad Ahmad 6/294 dengan sanad shahih, Shifatus sholah: 105)
Membaca dengan perlahan dan tartil lebih bisa membantu untuk merenungi
ayat-ayat yang dibaca dan mendatangkan kekhusyu'an. Adapun membaca
dengan ketergesa-gesaan akan menjauhkan hati dari kekhusyukan.
G. Meyakini bahwa Allah Subhânahu wa Ta'âla akan mengabulkan permintaannya ketika seorang hamba sedang melaksanakan shalat
Dalam hal ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam
hadits Qudsi: "Allah Subhânahu wa Ta'âla berfirman: ‘Aku membagi
Shalatku dengan hamba-Ku-menjadi dua bagian, dan bagi hambaku setiap apa
yang dia minta. Jika hamba-Ku mengucapkan Alhamdu lillahi
Robbil'âlamin, Allah Subhânahu wa Ta'âla berfirman: ‘hamba-Ku telah
menyanjung-Ku. Jika ia mengucapkan Mâ likiyaumiddin, Allah Subhânahu wa
Ta'âla berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuliakan dan mengagungkan-Ku".
(Shahih Muslim, Kitabus Shalat, Bab Wajibnya Membaca al-Fatihah dalam
Setiap Rakaat)
Hadits yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang yang
sedang melaksanakan shalat, yaitu ketika ia membaca al-Fatihah maka
bacaan tersebut mendapat balasan langsung dari Allah ‘Azza wa Jalla,
maka ini akan menjadi pendorong kita dalam mencapai kekhusyukan.
H. Meletakkan sutrah.(tabir pembatas) dan mendekatkan diri kepadanya
Hal ini lebih bertujuan untuk memperpendek dan menjaga penglihatan orang
yang sedang melaksankan Shalat, sekaligus menjaga dirinya dari syetan.
Disamping itu juga dapat menjauhkan diri dari lalu lalangnya orang yang
lewat di sekitar kita, karena lewatnya orang lain secara hilir mudik
dapat mengganggu kekhusyukan shalat.
Dalam hal ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika
salah seorang diantara kalian melaksanakan Shalat dengan menggunakan
tabir, maka hendaklah ia mendekat padanya, sehingga syetan tidak akan
memotong Shalatnya".(HR. Abu Daud, no. 446/1695)
Adapun jarak antara seseorang dengan tabir (sutrah) adalah tiga kali
panjang lengan, dan antara tabir dengan tempat sujudnya adalah, seluas
tempat lewatnya seekor kambing, sebagaimana yang banyak disebut dalam
hadits-hadits shahih. (lihat Fathul Bari 1/574-579)
I. Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri di dada
"Adalah Rasulullah jika sedang Shalat,beliau meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri". (HR. Muslim )
Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Para ulama berkata: ‘Hikmah dari
sikap tersebut (meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri di dada)-pen
merupakan bentuk sifat dari seseorang yang meminta-minta dengan perasaan
hina, sikap tersebut lebih mampu menghindarkan sifat main-main, dan
lebih dekat kepada kekhusyukan". (lihat Fathul Bari 2/224)
J. Melihat kearah tempat sujud
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu 'anha: "Adalah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jika sedang shalat, beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam menundukkan kepala serta mengarahkan
pandangannya ke tanah (tempat sujud)". (HR. al-Hakim 1/479, dia berkata
shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, disepakati juga oleh al-Albani
dalam buku shifatus Shalatin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hal 89)
Dari sini jelaslah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
Shalat melihat ke arah tempat sujud dan tidak memejamkan matanya, maka
orang yang memejamkan matanya berarti amalannya bertentangan dengan
sunnah.
K. Memohon perlindungan kepada Allah Subhânahu wa Ta'âla dari godaan syetan
Godaan syetan akan selalu datang kepada siapa saja yang akan menghadap
Allah Subhânahu wa Ta'âla, oleh karena itu seorang hamba hendaknya tegar
dalam beribadah kepada Allah Ta'âla, seraya tetap melakukan
amalan-amalan zikir ataupun shalat,dan jangan sampai goyah, sebab dengan
selalu menekuni hal-hal tersebut,godaan dan tipu daya syetan akan
hilang dengan sendirinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: "Sesungguhnya
tipu daya syetan itu adalah lemah.(QS. an-Nisa': 76)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika seorang
diantara kalian berdiri shalat, maka datanglah syetan, kemudian ia
mengacaukannya (mengacaukan shalatnya dan memasukkan padanya keraguan)
sehingga tidak mengetahui berapa rakaat ia shalat. Jika salah seorang
diantara kalian mendapati hal demikian, maka hendaklah ia bersujud dua
kali ketika dia sedang duduk". (HR. Bukhari)
Itulah diantara hal-hal yang membantu kekhusyukan, yang tidak bisa kami
sebutkan semuanya karena keterbatasan tempat, namun setidak-tidaknya ini
sebagai suatu jalan bagi kita untuk menuju khusyu'.
Adapun faktor yang kedua dari hal-hal yang akan membawa kekhusyukan
adalah dengan mengetahui penghalang-penghalang kekhusyukan dan
menolaknya. Adapun penghalang-penghalang kekhusyukan adalah sebagai
berikut:
A. Menghilangkan sesuatu yang mengganggu di tempat shalat
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dia berkata:
"Adalah ‘Aisyah memiliki selembar kain yang berwarna-warni yang
digunakan untuk menutupi bagian samping rumahnya. Melihat itu Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya: "Hilangkan itu dari
pandanganku, sebab gambar-gambarnya selalu terbayang dan menggoda
pandanganku pada waktu shalat". (HR. Bukhari/lihat Fathul Bari 10/391).
Dan termasuk perkara yang harus dihindari adalah Shalat di tempat lalu
lalang manusia, tempat yang ramai dan gaduh serta berisik, di dekat
orang yang sedang bercakap-cakap.
B. Tidak shalat di tempat yang terlalu dingin atau terlalu panas, jika hal tersebut memungkinkan
Karena hal ini jelas akan mengganggu kekhusyukan dalam shalat.
C. Menghindari shalat di dekat makanan yang disukai
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak baik Shalat
dilaksanakan di hadapan (di dekat) makanan yang telah dihidangkan". (HR.
Muslim, no. 560). Jika makanan yang telah dihidangkan dan berada
dihadapannya, maka ia berhak mendahulukan makan, sebab jika ia tidak
makan dan meninggalkannya (tidak makan terlebih dahulu), ia tidak akan
merasa khusyu' dan hatinya akan selalu teringat pada makanan tersebut,
bahkan seyogyanya dia tidak tergesa-gesa dalam makannya sehingga
betul-betul terpenuhi hajatnya.
D.Menghindari shalat dalam kondisi mengantuk
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika salah seorang dari kalian
merasa mengantuk dalam shalat, hendaklah ia tidur terlebih dahulu,
sehingga ia mengetahui apa yang diucapkannya". (HR. Bukhari, no. 210)
E. Jangan shalat di belakang orang-orang yang bercakap-cakap ataupun tidur
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah Shalat di
belakang orang yang sedang tidur dan juga orang-orang yang sedang
bercakap-cakap". (HR. Abu Daud, no. 694)
Karena suara orang-orang yang sedang bercakap-cakap dapat merusak konsentrasi seseorang yang sedang Shalat.
F. Menghindari shalat dalam keadaan menahan buang air besar ataupun kecil
Karena hal ini jelas akan mengganggu kekhusyukan. Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam melarang seseorang shalat dalam kondisi Haaqin yaitu
menahan buang air kecil dan besar. (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya no.
617)
G. Tidak menyibukkan diri untuk membersihkan debu
H. Dimakruhkan mengusap dahi dan hidung dalam shalat
I. Tidak boleh mengganggu orang yang sedang shalat dengan mengeraskan bacaan
J. Tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan ketika shalat
K. Tidak mengarahkan pandangan ke langit
L. Jangan meludah ke depan ketika sedang shalat
M. Berusaha untuk tidak menguap ketika shalat
N. Tidak mencontoh gerakan atau tingkah laku binatang
Driwayatkan dalam hadits bahwasanya: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam melarang tiga perkara dalam Shalat, yaitu perilaku mematuk
seperti burung gagak, duduk seperti duduknya binatang buas, mengambil
tempat tertentu sebagaimana unta mengambil tempat duduknya (menderum)".
(HR. Ahmad 3/428)
Demikianlah beberapa kiat-kiat dalam meraih Shalat Khusyu, semoga dengan
mengetahuinya akan mengantarkan kita menuju Shalat yang khusyu', yang
pada intinya sangat praktis, mudah dan ekonomis tanpa membutuhkan biaya
yang besar. Wallahu a'lam
Faishal Abdurrahman, Lc
Referensi: 33 Kiat Mencapai Kekhusyukan dalam Shalat oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajjid.
di ambil dari http://dareliman.or.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar